Langsung ke konten utama

LIBURAN MEPET : 'SEMI MAKSA' KE BULUKUMBA DISELA-SELA WAKTU YANG TERBATAS

Maret 2021, bukanlah kali pertama untukku Solo traveling ke Makassar. Juni 2018 merupakan titik awal dimana cerita perbolangan kala itu dimulai. 3 tahun lalu, ketika kuputuskan untuk mendaki Gn. Latimojong, aku berkenalan dengan seorang pemuda Makassar yang begitu sangat baik, dan bahkan keluarganya juga menyambutku dengan sangat hangat. Kali pertama, ku merasa diterima di tempat asing, dimana di tempat tersebut aku tak memiliki seorang pun teman maupun keluarga.

....

Kamis, 4 Maret 2021, Percakapan via Telephone
"Mak, Sabtu ini aku main ke Makassar masih diterima gak?" Pembicaraanku melalui telephone kepada seorang perempuan yang sudah ku anggap seperti Ibuku sendiri.
"Datanglah kesini!" Jawabnya
"Aku main ke Gowa, Pattalasang ya. Sebelum jalan ke Bulukumba, ku kesana ya?"
"Datang sini, kami antar!"


Rencana berkunjung kembali ke Sulawesi Selatan memang terkesan mendadak. Ini semua dikarenakan drama cuti yang masih terombang ambing, tiket pesawat juga yang masih suka di-reschedule oleh pihak maskapai, ditambah lagi dengan ketakutan yang acap kali timbul dengan adanya perubahan mendadak dari peraturan pemerintah tentang syarat dan ketentuan perjalanan selama pandemi covid-19.

....

Sabtu, 6 Maret 2021, Makassar... Ku datang kembali
Akibat tertahan dan terkurung cukup lama di Palembang, tidak bisa berpergian jauh setahun terakhir, membuat semangatku pagi itu cukup menggebu. Pk. 09.00, ku tiba di bandara SMB II, dengan segera aku memvalidasi surat rapid antigen, check in, dan membagasikan buku yang ku bawa. Lebih kurang 3 jam ku menunggu akhirnya pesawat yang membawaku, terbang menuju CGK (tempat transit). Semasa pandemi seperti ini memang sulit untuk berpergian jauh, dari Pulau Sumatera, kita bisa transit 1 atau 2 kali. Lebih kurang 2 jam transit di CGK, pesawat tujuan UPG memanggilku untuk segera masuk dan siap terbang bersamanya.




Pk. 17.55 ku tiba di Bandara Sultan Hasanuddin, disana telah menunggu seorang pemuda yang akan menemaniku beberapa hari ke depan, sebut saja "Bang Burhan". Tak berlama-lama bertegur sapa, kami pun bergegas pergi menuju Kabupaten Gowa, kediaman orang tua angkatku. Diperjalanan kami sempat berhenti sejenak untuk menikmati coto makassar.



Kekhilafanku menjadi jadi, entah karena efek kelaperan atau emang dasar enak, ku santap 2 mangkuk coto daging. Ehhhh, alasan aja....
Setelah perut kenyang, hati tenang, kami melanjutkan perjalanan ke Gowa, tempatku bermalam.

Minggu, 7 Maret 2021, Menuju Sinjai - Rapid Test
Perjalanan hari ini cukup panjang, cuaca mendung dan gerimis kecil menghiasi perjalanan kami. Sempat kami berhenti di Hutan Pinus Malino bertemu dengan Bang Ilo yang katanya ingin bergabung, namun dikarenakan urusan mendadak, beliau harus segera pulang. Disini kami bertemu untuk segera berpisah. Menghindari berkendara di jalan sampai malam hari, kami pun segera pergi.





"Bang, nanti di Sinjai kalau ketemu tempat Rapid Antigen, tolong antarkan aku dulu ya. Boleh besok, boleh juga hari ini," cakapku.
"Baiklah."
Hatiku dag dig dug meningat waktuku yang sangat terbatas. Pikirku jangan sampai karena drama Rapid, aku malah tidak bisa meneruskan perjalananku ke Sorong. Akhirnya kami putuskan untuk bermalam dulu di Sinjai, dan keesokan harinya baru mencari tempat yang melayani rapid.

Senin, 8 Maret 2021, Hello, Bulukumba!
Perjalanan cukup panjang membuat tidurku cukup lelap malam itu. Setelah sarapan, dan sebelum melanjutkan perjalanan ke Bulukumba, kami mampir sejenak tempat pelayanan Rapid. Puji Tuhan, setelah melewati proses colok mencolok, aku dinyatakan negatif covid-19. Hatiku sangat lega, tenang dan juga bahagia untuk melanjutkan perjalanan.
Destinasi pertama yang rencananya akan kami kunjungi di hari itu adalah Pantai Mandala Ria.


Welcome to Mandala Ria Beach! Salah satu pantai terbaik di ujung Selatan Pulau Sulawesi. Bentangan pasir putih cukup panjang, ditambah gradasi air laut yang indah begitu memanjakan mata. Berhubung kami berkunjung di hari kerja, sungguh sangat sepi dan pantainya berasa milik sendiri. Disini ada sebuah cafe yang sangat aesthetic,  dan instagramable. Di tempat inilah, kami putuskan untuk beristirahat sejenak dan makan siang sambil menikmati pemandangan yang disuguhkan. 










Setelah makan, kami berjalan menyusuri pantai. Tak jauh dari Pantai Mandala Ria, disini ada spot pembuatan kapal-kapal besar untuk dikirim ke domestik maupun internasional. Beruntungnya saat kami berkunjung para pekerja sedang membuat kapal. Ini merupakan kesempatan yang baik untukku sedikit bertanya-tanya kepada sumbernya secara langsung. Benar saja, hasil diskusiku dengan mereka membuatku berdecak kagum. Mengapa? Untuk membuat kapal yang begitu besar, mereka hanya memerlukan waktu sekitar 6 bulan saja. Sebuah seni yang sangat indah dengan arsitektur yang begitu sangat luar biasa. Memang benar lirik lagu yang mengatakan  "nenek moyangku, seorang pelaut." Ha ha ha! Mungkin benar yang buat lagu itu, lahir dan besar di Tanah Beru.






Puas menikmati pantai, kami melanjutkan perjalanan ke Tebing Apparalang, tempat paling iconic di Bulukumba. Setelah melewati hutan, turun naik tebing, akhirnya kami tiba di tebing Apparalang. Biaya masuk per orang Rp 5.000,- ditambah biaya parkir kendaraan roda dua Rp 5.000,- (sangat worth it sekali sodara-sodara)! Sebelum memasuki gerbang, kita akan banyak menemukan warung-warung berjejeran menjual snack, minuman, dan juga cinderamata. Namun sayang, saat kami berkunjung tak banyak yang buka. Sepi? Pastinya!



Lagi-lagi aku dibuat tercengang dan kagum akan karya Tuhan yang begitu luar biasa. Begitu indahnya tempat ini, dari atas tebing kita dapat melihat gradasi air nan cantik, bersih, gak ada sampah! Ingin rasanya langsung nyebur, tapi apa daya aku tak bisa berenang! Ha ha ha.




Sebelum matahari semakin tenggelam, kami bergegas berkunjung ke Pantai yang paling terkenal di Bulukumba, Pantai Tanjung Bira! Dengan membayar Rp 32.000, kami bisa puas mengelilingi destinasi wisata yang ada disini. Berhubung air laut sedang pasang, kami tidak bisa turun untuk bersantai. Pemandangan dari atas cukup untuk menikmati indahnya pantai ini.




Tidak jauh dari Pantai Tanjung Bira sebetulnya kita bisa ke Pantai Bara, namun dikarenakan hari sudah semakin gelap dan air sedang pasang, kami memutuskan untuk tidak pergi menuju Pantai Bara dan langsung menuju tugu 0 KM Sulawesi yang jaraknya sangat dekat. Dari tempat perhentian (parkir) menuju titik 0, kita harus berjalan menurunin ratusan anak tangga yang pastinya akan membuat lelah (pas naik)!
Terbayar sudah, tak menyangka aku bisa menginjakkan kaki di sudut paling ujung Selatan Pulau Sulawesi.







Bicara tentang Sulawesi, akan selalu aku gambarkan dengan cinta. Terima kasih Tuhan, terima kasih Bulukumba, terima kasih Bang Burhan, Terima kasih Mak Bapak di Gowa!
Cerita perjalanan di Bulukumba harus ku sudahi, Sorong memanggilku untuk melanjutkan kisah cerita selanjutnya. [ BACA : SORONG PART I ]

Tulisan ini, dengan benar dan sungguh kupersembahkan untuk seorang Pemuda yang begitu setia menjaga, dan menemani kuberjalan, dari awal kedatangan sampai kepulangan. Terima kasih untuk tetap bersabar dan mau direpotkan.

- Neng, 2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

GUNUNG MERBABU : 3142 MDPL - Catatan Pendakian Via Selo yang Mengagumkan

Cerita sebelumnya.... https://nengnongki.blogspot.com/2019/01/gunung-prau-2565-mdpl-via-patak-banteng.html Gunung Merbabu adalah salah satu dari sekian banyak gunung yang berada di Jawa Tengah. Pesona pemandangan alam yang disugguhkan gunung Merbabu sangat mempesona, tak kalah diragukan dikalangan pendaki, dengan ketinggian puncaknya mencapai 3.142 mdpl.  Banyak jalur yang bisa kita pilih untuk menikmati keindahan gunung ini, yaitu kita bisa melewati jalur pendakian via Selo (Boyolali), Kopeng (Salatiga), Wekas (Magelang), dan atau Suwanting (Magelang). Kali ini, setelah mencari banyak sumber, membaca banyak artikel dan menimbang-nimbang, kami memutuskan untuk melewati jalur Selo. Selain indah, kata orang-orang juga jalur ini cukup bersahabat dibandingkan jalur-jalur lainnya. Kendalanya cuma 1, lagi-lagi soal air. Patak Banteng, 26 Desember 2018 Pk. 10.15, setibanya kami di bawah (Basecamp Patak Banteng, Gunung Prau, Wonosobo), kami memutuskan untuk mengisi perut...

GUNUNG ARGOPURO : Itinerary, Tips, Budget Backpacker ke Argopuro

Sekilas tentang Argopuro Bagi penikmat dan pecandu ketinggian, tentu tahu atau pernah mendengar tentang Gunung Argopuro. Gunung berapi non-aktif yang terletak di wilayah Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, cukup dikenal sebagai gunung yang memiliki trek terpanjang se-Pulau Jawa dengan keindahan savana, keasrian alam yang masih cukup terjaga dengan baik, beserta indahnya Danau Taman Hidup. Tak hanya indah, panjang, dan luas, gunung Agropuro memiliki tiga puncak tertinggi, yaitu Puncak Arca (Puncak Hyang), Puncak Rengganis, dan Puncak Argopuro dengan ketinggian 3.088 mdpl. Tak hanya itu saja, gunung ini juga tak lepas dengan cerita Rengganis yang melegenda. Konon ceritanya, tempat ini dipakai sebagai tempat pengasingan seorang putri dari kerjaan Majapahit yang dibuang ke Pegunungan Hyang Argopuro. Pastinya, semua itu menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengiat alam untuk lebih mengenalnya. Ada dua jalur paling populer dikalangan pendaki. Pertama adalah Desa Bremi yang terl...

GUNUNG ARGOPURO : DAY 5 - Kembali ke Peradaban Menuju Desa Bremi

Cerita sebelumnya... [ BACA :  GUNUNG ARGOPURO : DAY 4 - Pesona Danau Taman Hidup ] D ay 5 - Jumat, 27  Desember 2019 Danau Taman Hidup - Desa Bremi Pagi itu ntah kenapa semangatku begitu berlebihan  menyambut menyapa hangatnya sinar mentari. Rasaku... Semalam maupun pagi itu, aku tak menyantap makanan atau minuman dengan dosis gula yang berlebih. Ku tak bisa berdiam diri membendung semangat itu, i ngin sekali kubergegas keluar dari balutan sleeping bag yang menghangatkanku tadi malam. Sepertinya... Aku... Aku belum terlalu ikhlas untuk menyudahi kesyahduan pagi, pagi seperti kala itu. Pagi yang tak akan pernah aku rasakan syahdunya seperti di kota. Kegalauanku seketika melanda, rasa tak rela melepas begitu menggenggam erat, berjalan cepat  bersama  waktu pagi itu. Rasa bahagia, rindu, sedih dan haru, melebur jadi satu yang menghadapkanku pada sebuah realita bahwa peradaban kota telah memanggilku kembali dengan segala rutinitas yang monotone . Yap,...