Langsung ke konten utama

GUNUNG SEMERU (PART 2) : Catatan Perjalanan tentang Alam dan Persahabatan






20 menit  kemudiaannn…..
“Yuk jalan.”
“Yuk.”
Kami pun melanjutkan perjalanan menuju Jambangan. Jalur yang kami lewati tidaklah selandai dari yang sudah-sudah. Tanjakan-tanjakan kecil yang disugguhkan cukup menguras tenaga, dan acapkali membuatku berhenti beristirahat. Fisikku mulai lemah, Sigit masih prima, Dani mulai tertatih, dan kali ini Reza yang jadi superhero dalam perjalanku kali ini (setia menemani hayati jatuh bangun). Yang tadinya setia, disini kesetian begitu teruji, yang cepat ya cepat, yang lama ditinggalin.
“Bye Dan! Kami duluan.”
Dani superr…… lelet! Dikit-dikit berhenti. Wajar aja sih, capekkk. Membutuhkan waktu sekitar 2 jam berjibaku untuk tiba di Jambangan. Sembari menyantap semangka nan segar, kami bercakap dengan para pendaki yang hendak pulang.
“Berapa lama lagi sampai di Kalimati?” ujarku yang kelelahan.
“Deket kok mbak, 15 menit lagi sampai.”
Betul saja, jika kalian sudah sampai di Jambangan, itu pertanda Kalimati sudah tidak jauh lagi. Angin segar mengiringi dan semangat makin menjadi-jadi. Kami percepat langkah bukan hanya karena semangat mau sampai dan beristirahat, tetapi sebentar lagi akan turun hujan.
“Za, gimana Dani? Gpp ditinggalin, mau ujan ini.”
“Udah gpp, biarin aja bisa sendiri kok dia.”





Setibanya di Kalimati, hujan pun turun. Segera Reza, Sigit dan beberapa rekan lain kembali membangun tenda untuk beristirahat. Rasa malas tentunya selalu mengantui, mau pergi ngambil air pun males. Selain males, jauh juga cui… pulang pergi bisa sejam. Yaudahlah kami memutuskan untuk membeli, antara rela ga rela eh harga aqua 330 ml yang dijual pasaran cuma 3.000 – 3.500 dijual 15.000 sebotol, muahaaalnya 5x lipat. Beli 7, 105.000 ditawar cepek beneran ga mau goyang. Akibat kemalasan harus bayar harga ekstra, dan yang jualan juga mau cepetan naik haji, jualan air segitu mahalnya. Terbaeqlah! HAHHAHAHA. Sore menjelang petang itu kami memutuskan untuk beristirahat untuk bangun summit dini hari.


20 Juni 2018 – Kalimati – Puncak Mahameru – Ranu Kumbolo
Pk. 00.30. Inilah awal dari petualangan kami. Kenapa bilang gitu Neng? Emangnya yang kemaren bukan petulangan? Bukan gitu gaess, sedikit informasi, Kalimati adalah batas akhir yang diperbolehkan selama melakuan pendakian. Dengan kata lain, kalau ada apa-apa dan kenapa-kenapa di jalan menuju puncak, itu semua adalah sepenuhnya tanggung jawab pendaki bukan lagi tim SAR. Cukup menegangkan bukan? Yaudahlah ya, asal hati-hati aja ya!
Setelah melakukan doa Bersama, kami mulai berjalan menuju puncak. Dari Kalimati sampai puncak, sudah bisa dibilang tidak ada bonus. Jalur menanjak dan ramai. Banyak sekali pendaki yang berbondong-bondong ngantri untuk ke puncak #kekkeretaapi. Di tengah gelapnya malam, dingin pun tak kalah bersaing menusuki tulang. Selangkah demi langkah kami harus tetap bergerak walaupun tubuh terasa lelah. Ini belum seberapa karena masih ada hutan yang menghalang hembusan angin.
Sesampainya dibatas vegetasi, trek tanah padat berganti dengan gumpalan pasir. Tentunya ini akan sangat memberatkan langkah kaki. Naik dua langkah, merosot selangkah. Kebayangkan gimana bentukkannya? Udahlah ya! Memang mendaki gunung juga butuh kesabaran super ekstra. Pendakian harus terus berlanjut, sekitar pukul 05.30, matahari mulai menampakan indahnya dari sisi sebelah kanan, seolah tak mau kalah bersaing, dari sisi sebelah kiri, pelangi juga menghiasi indahnya Samudra awan yang kami lalui. Suatu moment yang langkah dan teramat indah, mulut yang hina ini tak mampu membendung rasa syukur dan haru akan hal itu.


Ngantri sembako part kesekian

 






Setelah menikmati dan mengabadikan moment bergegas kami langkahkan kaki menuju puncak. Untuk dinginnya jangan pula diragukan, superrrr dan gak ada duanya! Jangan lupa berperlengkapan safety ya gaes kalau mau mendaki ke puncak Mahameru, ini sangat penting jika tidak mau terkena hipotermia.
Memang betul, untuk melihat atau mendapatkan sesuatu yang indah dibutuhkan perjuangan yang sangaaaaaaaatt luar biasa. Kadang harus tidur di trek karena kecapekan, menghemat makanan dan minuman yang dibawa, dan bahkan harus menahan dingin. Ini sungguh terlalu dan harus segera berlalu.
Puncak memang terasa dekat di depan mata, namun terasa tak kunjung sampai. Haha! Setelah 8 jam baku hantam dengan trek terjal, tibalah aku dan Dani di puncak Mahameru di ketinggian 3.676 Mdpl. Loh kok cuma berdua? Yaiyalah cui, aku dan Dani memang pendaki siput. Mereka naik lebih dulu dan nunggu di atas, sudah lama nunggu kami pun, kami juga tak sampai-sampai, dan pada akhirnya kami kembali berpas-pasan dengan Reza dan Sigit di trek. Yaudahlah sih, pelan-pelan aja asal sampai.


Bocah ilang ngupdate status di puncak





Setelah puas berfoto 30 menit di puncak, aku dan Dani segera turun untuk bergabung dengan teman-teman lain. Waktu naik dingin, turunnya panas, jadinya badan berasa panas dingin. Perjalanan turun tidaklah sesulit waktu naik, cuma ya harus-harus kuat aja kaki dan insting buat ngerem. Bisa guling-guling kek babi guling kalau salah perhitungan. Kok Babi Guling si Neng? Maklum terlalu focus menghayati perut yang kelaperan, stok makanan dan air menipis.
“Kak... makan kak?” Bocah ngerengek minta makanan, persis kek anak ayam keilangan induknye.
“Sabar, sabar ya Dan. Kita turun sekarang.”
Beruntungnya selama perjalanan pulang, aku gak sendirian ngurusin si bayi besarku, ada team dari pendaki lain yang berjalan beriringan dengan kami dan bersedia manggulin keril yang aku bawa. So lucky, I am.


Ini dia yang berbaik hati


Kurang lebih pukul 13.00 aku dan Dani tiba di Kalimati, langsung saja tak banyak bicara dan tak pikir makan aku ngegelepar di tenda karena kecapekan. Cukup sejam kami beristirahat, makan dan packing, pukul 15.00 kami mulai berjalan menuju Ranu Kumbolo untuk bermalam di sana. Hujan kembali mengiringi perjalanan, tapi tak mengentikan niat kami untuk segera tiba. Cukup 3 jam kami tempuh perjalanan, dan menibakan kami di Ranu Kumbolo hampir-hampir magrib. Badan basah-basah harus bangun tenda lagi untuk beristirahat, males-males juga tetap harus masak untuk makan. Kisah perjalananku hari itu berakhir, dan kami harus segera berisirahat untuk perjalanan turun keesokan harinya.


 


21 Juni 2018 – Ranu Kumbolo – Basecamp
Pk. 05.30 kembali Sang Surya menampakan sinarnya. Bergegas aku kembali menikmati pemandangan ini, dan mencoba memasak (merealisasikan janji yang tertunda). Memang ga ada matinya, Sigit tetap gritilan tangannya mencoba menolong hamba yang sedang kesulitan. Ujung-ujungnya Sigit yang memasak nasi goreng untuk kami makan pagi itu. Nasi goreng terbaik yang pernah aku rasakan selama mendaki. Terima kasih.


Oh ini toh namanya nesting :)

Keliatan kan, si Neng niatin masak pagi itu


Hari ini memang kami tidak ada  agenda apapun selain pulang. Keindahan Ranu Kumbolo pagi itu mempererat tali tidak kenalan kami ber-18 sebelumnya. Mulai dari sesi foto-foto bahkan nyalon di gunung juga dilakonin pagi itu.












Setelah selesai menikmati pemandangan, dan mempacking seluruh barang bawaan, pk. 11.30 kami mulai perjalanan turun menuju basecampe berjalan bersama dengan pendaki-pendaki lain. Rasa lelah dan syukur terucap saat gapura selamat menyambut kepulangan kami.





Terima kasih Semeru, terima kasih untuk semua cerita dan kenangan yang terkubur bersamamu, terima kasih untuk rekan-rekan baru seperjalanan. Ini sungguh perjalanan yang sangat luar biasa, dan bukan akhir dari semuanya. Sayonara!





Selalu semangka



Komentar

Postingan populer dari blog ini

GUNUNG MERBABU : 3142 MDPL - Catatan Pendakian Via Selo yang Mengagumkan

Cerita sebelumnya.... https://nengnongki.blogspot.com/2019/01/gunung-prau-2565-mdpl-via-patak-banteng.html Gunung Merbabu adalah salah satu dari sekian banyak gunung yang berada di Jawa Tengah. Pesona pemandangan alam yang disugguhkan gunung Merbabu sangat mempesona, tak kalah diragukan dikalangan pendaki, dengan ketinggian puncaknya mencapai 3.142 mdpl.  Banyak jalur yang bisa kita pilih untuk menikmati keindahan gunung ini, yaitu kita bisa melewati jalur pendakian via Selo (Boyolali), Kopeng (Salatiga), Wekas (Magelang), dan atau Suwanting (Magelang). Kali ini, setelah mencari banyak sumber, membaca banyak artikel dan menimbang-nimbang, kami memutuskan untuk melewati jalur Selo. Selain indah, kata orang-orang juga jalur ini cukup bersahabat dibandingkan jalur-jalur lainnya. Kendalanya cuma 1, lagi-lagi soal air. Patak Banteng, 26 Desember 2018 Pk. 10.15, setibanya kami di bawah (Basecamp Patak Banteng, Gunung Prau, Wonosobo), kami memutuskan untuk mengisi perut...

GUNUNG ARGOPURO : Itinerary, Tips, Budget Backpacker ke Argopuro

Sekilas tentang Argopuro Bagi penikmat dan pecandu ketinggian, tentu tahu atau pernah mendengar tentang Gunung Argopuro. Gunung berapi non-aktif yang terletak di wilayah Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, cukup dikenal sebagai gunung yang memiliki trek terpanjang se-Pulau Jawa dengan keindahan savana, keasrian alam yang masih cukup terjaga dengan baik, beserta indahnya Danau Taman Hidup. Tak hanya indah, panjang, dan luas, gunung Agropuro memiliki tiga puncak tertinggi, yaitu Puncak Arca (Puncak Hyang), Puncak Rengganis, dan Puncak Argopuro dengan ketinggian 3.088 mdpl. Tak hanya itu saja, gunung ini juga tak lepas dengan cerita Rengganis yang melegenda. Konon ceritanya, tempat ini dipakai sebagai tempat pengasingan seorang putri dari kerjaan Majapahit yang dibuang ke Pegunungan Hyang Argopuro. Pastinya, semua itu menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengiat alam untuk lebih mengenalnya. Ada dua jalur paling populer dikalangan pendaki. Pertama adalah Desa Bremi yang terl...

GUNUNG ARGOPURO : DAY 5 - Kembali ke Peradaban Menuju Desa Bremi

Cerita sebelumnya... [ BACA :  GUNUNG ARGOPURO : DAY 4 - Pesona Danau Taman Hidup ] D ay 5 - Jumat, 27  Desember 2019 Danau Taman Hidup - Desa Bremi Pagi itu ntah kenapa semangatku begitu berlebihan  menyambut menyapa hangatnya sinar mentari. Rasaku... Semalam maupun pagi itu, aku tak menyantap makanan atau minuman dengan dosis gula yang berlebih. Ku tak bisa berdiam diri membendung semangat itu, i ngin sekali kubergegas keluar dari balutan sleeping bag yang menghangatkanku tadi malam. Sepertinya... Aku... Aku belum terlalu ikhlas untuk menyudahi kesyahduan pagi, pagi seperti kala itu. Pagi yang tak akan pernah aku rasakan syahdunya seperti di kota. Kegalauanku seketika melanda, rasa tak rela melepas begitu menggenggam erat, berjalan cepat  bersama  waktu pagi itu. Rasa bahagia, rindu, sedih dan haru, melebur jadi satu yang menghadapkanku pada sebuah realita bahwa peradaban kota telah memanggilku kembali dengan segala rutinitas yang monotone . Yap,...