Langsung ke konten utama

GUNUNG RINJANI (Part 1) : 3726 MDPL Perjalanan Sendu bikin Rindu

Gerimis pagi kala itu, seolah berat mengantarku untuk pergi. Yap, tepat tanggal 18 Desember di hari yang sudah ku nantikan cukup lama untuk memulai perjalanku ke Rinjani dihiasi oleh kabar yang kurang enak yang aku terima dari seberang Pulau sana.

Pagi itu, pk. 04.28 : “Pi, nenekmu meninggal.” Terdiam aku sejenak, pikiranku begitu carut marut, sedih, dan beban begitu terasa kala itu. Tak dapat aku berkata apa, dan aku membalas pesan itu dengan sebuah kalimat yang cukup berat diungkapkan : ‘Ma, Novi boleh ga pulang ya?’ Beruntungnya, beliau menjawab iya dan memberikan restu untukku pergi.

Di tengah gerimis, kakiku membawaku tiba di stasiun Pasar Senen pk. 08.24, tempat dimana aku dan 8 orang yang lainnya akan bertemu dan memulai perjalanan panjang kami.

Sebuah kesempatan yang sangat indah yang boleh aku dapatkan untuk menutup akhir tahun 2017 dengan mendaki gunung api tertinggi kedua di Indonesia.



Senin, 18 Desember 2017, Stasiun Pasar Senen
Satu per satu dari kami akhirnya menampakan hidungnya pagi itu, terkecuali Dismor dan Putra yang sudah lebih dulu jalan. Oh ya, sebelumnya akan ku perkenalkan mereka. Perjalananku kali ini, aku bertemu dengan Sekar (Bekasi), Reza (Bogor), Dismor (Purwokerto), Putra (Medan), Sigit (Sukabumi), Asep (Sukabumi), Janoko (Wonosobo), dan Jito Lee (Solo). Tujuan dan alam yang sama kini mempersatukan kami untuk mendaki bersama dan tak ada satupun dari kami yang pernah mendaki gunung terindah ini.


Janoko - Sigit - Jito - Reza _ Asep - Me - Sekar



Segera kami check in, dan tepat pk. 10.00 WIB kereta kami mulai diberangkatkan. Sepanjang perjalanan kami disuguhkan pemandangan ya apik, hamparan sawah milik warga terbentang luas yang sangat menyejukkan mata, tak kala rintik hujan yang tipis juga menghias akan indahnya perjalanan kami. Waktu di kereta begitu sangat panjang, dan kami habiskan waktu untuk bercerita (sampai-sampai kami ditegur juga dua kali oleh dua orang bapak yang berbeda akibat volume suara ketawa kami cukup besar, dan mengganggu para penumpang lain. HAHAHA. Maaf Bapak, kami tidak maksud begitu). Mau makan, tak enak, tidurpun tak nyenyak, mungkin itu yang bisa menggambarkan perasaanku selama sepanjang perjalanan. Well, itu tak akan menyurutkan niatku untuk terus melaju dan menggapai puncak Rinjani.






Tempat ini menjadi saksi bisu, kami diomelin
Kereta membawa kami keperhentian terakhir, yap.. Pasar Gubeng (Surabaya) Pk. 01.30 (dini hari), yang mengharuskan kami untuk segera turun dan menyambung perjalanan kami dengan menggunakan kapal ferry. Sesampainya di stasiun, kami berniat untuk mengisi perut dan mencari makanan, tapi apa daya sudah tidak ada lagi orang yang berjualan pada dini hari tersebut. Hikksss, di tengah perjalanan sebelum kami memesan grab untuk menyambung perjalanan kami ke Tj. Perak, kami bertemu seorang anak pendaki lain yang berasal dari Gorontalo yang hendak melakukan perjalanan yang sama. Akibat di PHP-in temannya, dia berangkat sendiri. Dan tak kebetulan juga, beliau akhirnya memutuskan untuk bergabung bersama kami. Oh ya, sebut saja namanya Tio, asli Gorontalo, status sedang menjadi mahasiswa di sebuah Universitas di Yogyakarta.




Lobby Pel. Tanjung Perak

Sementara Reza dkk tidur, kami main kesini dulu.

Awal pergembelan dimulai (Part 1)

Pergembelan Part 2

Pergembelan Part 3

Pergembelan Part 4
Menunggu dan menghabiskan pagi, kami habiskan waktu untuk beristirahat di kantor ASDP (bayar Rp 10.000/orang, haha.. Hotel mana yang bisa kasih harga begitu).


Ampek mimpi liar lu, Git..
Selasa, 19 Desember 2017, Pelabuhan Tanjung Perak
Lain yang dipesan, lain yang dijadwal, lain pula kenyataannya. Pada pesanan di situs online, kapal ferry kami akan diberangkatkan pukul 7, dijadwal yang tertera di boarding pass, pukul 12, dan pada kenyataannya kami berangkat pukul 19. Suatu PHP yang sangat luar biasa, yang mengharuskan kami sesabar tingkat dewa dan segembel yang kami bisa. Mulai makan ngemper di depan gate keberangkatan, sampai tidur dijalan sudah tak jabani untuk mengisi kebosanan itu. Akhirnya, tepat pada pukul 19 WIB, kapal kami mulai berlayar dan menibakan kami di Lembar, Rabu, 20 Desember, pk. 14.00 WITA. Sepanjang dan selama perjalanan, banyak waktu kami habiskan untuk bercerita, dan tak khayal ketinggalan stand up comedian di kapal, yang bikin perut sakit dan ngakak ga habis-habis.


Pergembelan Part 5

Pergembelan Part 6


Bokong Tepos Adv


Rabu, 20 Desember 2017, Pelabuhan Lembar – Basecamp Sembalun
Pukul 14.00 WITA….
Sementara kami menunggu mobil carteran datang dan membawa kami ke basecamp Sembalun, kami memutuskan untuk mengisi perut dengan makan siang di sebuah rumah makan sederhana di dekat Pelabuhan Lembar. Sejam kami menunggu, akhirnya mobil kami pun tiba, dengan segera kami memasukkan barang kami ke mobil, dan melaju menuju basecamp. Yeahh!!







Perjalanan kami menuju basecamp cukup panjang, dan tak lupa kami berhenti sejenak untuk membeli keperluan logistik pendakian.





Setibanya kami di basecamp, kami langsung berberes, mempacking ulang seluruh bawaan, makan, mandi, dan segera beristirahat. Di antara kami, ada yang berjaga alias tidak tidur demi kelangsungan hidup gadget kami. Melalui tulisan ini, aku berterima kasih untuk Dismor, dan juga Janoko yang rela ngeronda buat kami (kalian terbaik, hahaha..)


Lahap yak.



Kamis, 21 Desember 2017, Basecamp Sembalun – Pos 3
Pk. 06.15, kami mulai perjalanan kami, keluar dari basecamp menuju titik pendakian. Oh ya, sebelum kami memulai pendakian, kami harus mendaftarkan diri terlebih dahulu alias simaksi (biar kelihatan resmi, dan kalau ada apa-apa bisa ditolongin). 



Hah, singkat saja, Pk. 07.30 kami mulai perjalanan kami menuju pos 1. Waktu yang kami tempuh untuk sampai di Pos 1, memakan waktu berkisar 2 jam 15 menit, dengan pemandangan kanan kiri yang apik, kerbau yang lagi makan pun juga menghiasi pemandangan perjalanan kami. Jalur ke Pos 1 tak boleh disepelekan, walaupun terkesan landai, kekuatan tubuh cukup terkuras untuk menanjak. Kami boleh beristirahat sejenak disini, dan melanjutkan perjalanan kami ke Pos 2.












Pk. 11.00 lebih kurang kami sampai ke Pos 2, dan memutuskan untuk makan siang disini. Waktu yang kami butuhkan untuk sampai di Pos 2 dari Pos 1, lebih kurang 1 jam dengan jalan yang super selow.






Perjalanan dari Pos 2 menuju Pos 3 cukup teramat sulit, ditambah lagi dengan hujan yang mengguyur kami sepanjang perjalanan. Pada Pos 3 ini, sumber mata air begitu dekat, dan bagi para pendaki yang memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan ke Plawangan bisa bermalam dan mendirikan tenda disini. Yap, sesampainya kami di pos 3 dengan durasi waktu 2 jam 30 menit, kami memutuskan untuk bermalam disana, dan melanjutkan perjalanan kami ke Plawangan besokan harinya.







Di tengah hujan, dan lapak yang tidak besar, kami akhirnya hanya membangun 2 buah tenda senyaman mungkin dengan tenda kapasitas 2 dan 4 orang. Kebayang? Jujur saja tidak! Kami bersepuluh mana mungkin bisa tenda segitu banyak mampu menampung kami dan carrier kami. Yap, lagi-lagi ada yang rela untuk tidur di luar bealaskan SB, matras, dan juga Hammock. Sekali lagi terima kasih untuk Reza, Jito, yang begitu memperlakukan wanita dengan sangat istimewa di gunung. Wanita kalau di gunung itu gini : tenda didiriin, masak juga dimasakin, ongkang-ongkang kaki aja dah. #plakk! Dasar kau manja RAB! HAHAA. BTW, sekali lagi terima kasih, tak hanya tenda, dan soal makanan saja, guyonan temanku sepanjang perjalanan memecahkan dinginnya suasana kala itu.

Jumat, 22 Desember 2017, Pos 3 – Plawangan Sembalun 4
Pagi itu, kabut menyambut kami dengan girang, gerimis tak diundang pun ikut meramaikan. Pukul 08.30 kami bersiap menuju Plawangan. Rinjani memang penuh pesona, indah, dan juga menyiksa. Perjalanan hari ini adalah perjalanan terberat dikarenakan kami harus melewati 7 bukit penyesalan. Treknya? Bukan maen ndes, tiap bukit ga ada bonus! Cobain aja sendiri kalau ga percaya, aku mah ogah!








Sampailah kami di Plawangan, treknya masih memanusiawikan manusia, landaiii, tapi tak juga ringan. Ya, siputan aja yak. Ditemani hujan, kami akhirnya tiba di Plawangan akhir Sembalun sekitar Pk. 14.30. Sigit dan Asep telah mendirikan tenda, dan mulai memasak. Setibanya kami, kami langsung mengganti pakaian, dan tinggal makan ajah. Satu per satu mulai tiba dan mendirikan tenda. Kami putuskan untuk segera beristirahat dan siap summit dini hari.




Beruntung… Sempat kami bertemu pendaki di perjalananyang mengatakan kabar kurang enak kalau mereka sudah 4 hari di Plawangan, tapi gagal muncak karena di atas sedang badai. Down, down, down. #lebay. Pukul 17.30, alam seolah menyambut dan menunjukkan bahagianya pada kami, perlahan kabut itu menipis, dan awan terbuka. You know guys, pada jam tersebut kami bisa melihat Segara Anak tanpa halangan kabut seolah pertanda puncak menanti kami dengan girangnya kala itu. Semangat itu kembali muncul, dan ketika gelap datang kami memutuskan untuk beristirahat dan siap summit dini hari.






Sabtu, 23 Desember 2017, Plawangan Sembalun 4 – Puncak Rinjani – Danau Segara Anak
Tepat Pk. 02.00, alarm kami berbunyi pertanda Puncak sudah semakin dekat. Kami bersiap, dan segera memperlengkapi diri dengan peralatan semaksimal mungkin. Hanya berbekal air, kami berjalan. Oh ya guys, kami kekurangan satu teman kami yang tidak bisa summit kala itu - Janoko. Beliau sakit, beristirahat dan tentunya tidak kuat muncak. Sedih dan sekaligus PR untuknya. But, U're best, Yat!

Jalur yang tadinya tanah, kini berubah menjadi gumpalan pasir yang memberatkan langkah kaki kami untuk nanjak (kayaknya cuma gua aja yang merasa berat #pendakimalas). Teruntukku yang pernah menaklukan Kerinci sebelumnya, Rinjani tergolong teramat berat, summit begitu melelahkan dengan jalur treknya begitu bikin putus asa. Langkah 2 kali, merosot 1 kali, ditambah dengan jalur yang juga tidak landai. Sebetulnya, dari Plawangan menuju puncak, kita hanya memutari kawah dan danau Segara Anak ajah sih, ini terlihat jelas dari sepanjang perjalanan. #Rinjanikerasdandiajaklahakutourmuterinsegaraanak.



Summit Rinjani… Aku banyak kali istirahat, bobo dijalan yang dinginnya juga ga ketolongan. Apa daya, aku bisa berbuat apa, memang sampai begitu aja aku kuatnya, dan ga bisa ngebut-ngebut kayak pendaki lain. Harapan dan doaku hanya satu sepanjang perjalanan itu, aku pengen dapet puncak dengan segala kekuatan yang ada. Dengan semangat dan tekad yang tersisa, kulangkahkan kaki ini dengan perlahan, mulai dari disemangati si Putra, juga harus didorong oleh Dismor dan terkadang juga ditarik, akhirnya sampailah aku di puncak Rinjani. Perasaanku begitu haru, dan syukur kala itu. Puncak tertinggi di NTB & Bali sudah aku gapai. Pk. 05.40, cuaca begitu cerah menjadi saksi bisu dan memberikan semangat tersendiri untuk kami berlama di atas puncak.











Bersambunggg …… 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

GUNUNG MERBABU : 3142 MDPL - Catatan Pendakian Via Selo yang Mengagumkan

Cerita sebelumnya.... https://nengnongki.blogspot.com/2019/01/gunung-prau-2565-mdpl-via-patak-banteng.html Gunung Merbabu adalah salah satu dari sekian banyak gunung yang berada di Jawa Tengah. Pesona pemandangan alam yang disugguhkan gunung Merbabu sangat mempesona, tak kalah diragukan dikalangan pendaki, dengan ketinggian puncaknya mencapai 3.142 mdpl.  Banyak jalur yang bisa kita pilih untuk menikmati keindahan gunung ini, yaitu kita bisa melewati jalur pendakian via Selo (Boyolali), Kopeng (Salatiga), Wekas (Magelang), dan atau Suwanting (Magelang). Kali ini, setelah mencari banyak sumber, membaca banyak artikel dan menimbang-nimbang, kami memutuskan untuk melewati jalur Selo. Selain indah, kata orang-orang juga jalur ini cukup bersahabat dibandingkan jalur-jalur lainnya. Kendalanya cuma 1, lagi-lagi soal air. Patak Banteng, 26 Desember 2018 Pk. 10.15, setibanya kami di bawah (Basecamp Patak Banteng, Gunung Prau, Wonosobo), kami memutuskan untuk mengisi perut...

GUNUNG ARGOPURO : Itinerary, Tips, Budget Backpacker ke Argopuro

Sekilas tentang Argopuro Bagi penikmat dan pecandu ketinggian, tentu tahu atau pernah mendengar tentang Gunung Argopuro. Gunung berapi non-aktif yang terletak di wilayah Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, cukup dikenal sebagai gunung yang memiliki trek terpanjang se-Pulau Jawa dengan keindahan savana, keasrian alam yang masih cukup terjaga dengan baik, beserta indahnya Danau Taman Hidup. Tak hanya indah, panjang, dan luas, gunung Agropuro memiliki tiga puncak tertinggi, yaitu Puncak Arca (Puncak Hyang), Puncak Rengganis, dan Puncak Argopuro dengan ketinggian 3.088 mdpl. Tak hanya itu saja, gunung ini juga tak lepas dengan cerita Rengganis yang melegenda. Konon ceritanya, tempat ini dipakai sebagai tempat pengasingan seorang putri dari kerjaan Majapahit yang dibuang ke Pegunungan Hyang Argopuro. Pastinya, semua itu menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengiat alam untuk lebih mengenalnya. Ada dua jalur paling populer dikalangan pendaki. Pertama adalah Desa Bremi yang terl...

GUNUNG ARGOPURO : DAY 5 - Kembali ke Peradaban Menuju Desa Bremi

Cerita sebelumnya... [ BACA :  GUNUNG ARGOPURO : DAY 4 - Pesona Danau Taman Hidup ] D ay 5 - Jumat, 27  Desember 2019 Danau Taman Hidup - Desa Bremi Pagi itu ntah kenapa semangatku begitu berlebihan  menyambut menyapa hangatnya sinar mentari. Rasaku... Semalam maupun pagi itu, aku tak menyantap makanan atau minuman dengan dosis gula yang berlebih. Ku tak bisa berdiam diri membendung semangat itu, i ngin sekali kubergegas keluar dari balutan sleeping bag yang menghangatkanku tadi malam. Sepertinya... Aku... Aku belum terlalu ikhlas untuk menyudahi kesyahduan pagi, pagi seperti kala itu. Pagi yang tak akan pernah aku rasakan syahdunya seperti di kota. Kegalauanku seketika melanda, rasa tak rela melepas begitu menggenggam erat, berjalan cepat  bersama  waktu pagi itu. Rasa bahagia, rindu, sedih dan haru, melebur jadi satu yang menghadapkanku pada sebuah realita bahwa peradaban kota telah memanggilku kembali dengan segala rutinitas yang monotone . Yap,...