Langsung ke konten utama

CATATAN PEJALAN KUSAM : Nusa Penida yang Penuh Pesona dan Kenangan

Pernah ke Bali tapi gak pergi ke Nusa Penida? Rugii!



Catatan ini adalah catatan perjalanan keduaku ke Bali. Setelah berleha-leha di Rinjani dan Lombok, aku tembak Nusa Penida sebagai sasaran utamaku. Keindahan pulau kecil di Pulau Dewata ini sudah begitu dikenal dan destinasi wisatanya begitu uappiiikk untuk dikunjungi.
Nusa Penida gak serame dan sebesar Bali. Tempat ini belum begitu banyak dijangkau dan dilirik oleh para wisatawan, padahal untuk sampai di Pulau ini sudah ada beberapa transportasi laut dari Bali yang menyediakan jasa pelayaran. Dari Sanur kita bisa menaiki fast boat atau dari Padang Bai kita bisa menaiki ferry.
Buat kalian yang pengen menyeberang, aku sarankan naik fast boat saja dari Sanur. Loh kenapa? Walaupun ada perbedaan harga yang ga gitu signifikan, tapi setidaknya kalian bisa menghemat waktu, lebih cepat dan tidak ngaret. Berhubung kami dari Lembar dan berhenti di Padang Bai, maka kami memutuskan untuk menggunakan ferry. Ya, belajar dari pengalaman sebelumnya, di tiket tertera berangkat pukul 8, tapi berangkatnya? Yap, kami di PHP-in sampe jam 12. Yasudahlahh!



Selama kami menunggu diemperan dermaga, kami bertemu dengan seorang ibu yang hendak menyeberang juga ke Penida bersama dengan keluarganya. Sharing pengalaman ngebolangnya begitu banyak, dan tentunya ala anak-anak backpacker. Sebuah kesempatan yang sangat indah, dan melaluinya kami tak perlu lagi repot mencari tempat penyewaan motor, karena beliau yang mengontak dan memesankan kami 3 buah kendaraan roda dua yang akan kami pakai untuk mengexplore pulau cantik ini.
Oh ya, harga untuk nyebrang ke Nusa Penida dari Padang Bai menghabiskan biaya Rp 31.000,- untuk sekali jalan dan untuk sewa motor per hari harganya berkisar Rp 75.000,-

So.. Apa aja yang ada di Nusa Penida? Dan apa saja yang bikin aku jatuh cinta sama Nusa Penida! Yuk nyimak...

Kamis, 28 Desember 2017 - Crystal Bay
Sesampainya kami di Pelabuhan, udah deal-deal-an juga sama orang sewa motor, kami langsung tancep gas ke penginepan. Oh ya guys, kami nginep di Bintang Bungalow, ini penginepan cukup dekat dengan Crystal Bay, but aku ga merekomendasikan kalian untuk nginep disini bagi kalian yang hendak backpackeran. Why? Harga sewa semalem untuk satu Bungalow di charge Rp 612.000,- (engap dah bayar segitu untuk semalem numpang tidur doank, mendingan ente tendaan dipinggir pantai, kan keren tuh).
Tak berlama-lama, setelah check in dan beres-beres, berhubung waktu sudah sore, kami langsung ke Crystal Bay untuk menikmati sunset dan bermain air di sana.
Waktu kami kunjungi, tempat ini cukup ramai. Namun dibalik keramaian Pantai ini. Kami menemukan sebuah pantai yang indah, sepiii, sebuah pantai dengan deburan ombak cukup besar. Kok bisa? Simple, berawal dari rasa penasaran aku, Tio, dan Ares, di ujung pantai Crystal Bay ada sebuah 'bukit' yang bisa dinaiki. Awalnya kami berpikir, jika kami naik ke atas kami bisa melihat view pantai dari sisi yang berbeda, atauu.. ada sebuah pura tempat persembayangan orang Hindu. Rasa penasaran begitu menggebu, tanpa pikir panjang, kami mulai menaiki anak tangga yang sudah beberapa rusak, dan terus berjalan sampai pada akhirnya kami menemukan pantai yang aku bilang itu. Tenang, dan asik banget dah dimari sambil mainan sama ombak.


Crystal Bay view on top




Puas bermain air, waktu sudah hampir malam, tak ada tanda sunset indah, kami memutuskan untuk segera pulang. Sebelum kami benar-benar istirahat, kami sempat ke Toya Pakeh dulu untuk mencari makan, dan memesan tiket penyebrangan ke Bali untuk besokan harinya.


Jumat, 29 Desember 2017 - Kelingking Beach - Angel's Billabong & Broken Beach
Pagi itu membangunkan ku pukul 07.00 dan bersiap untuk mengelilingi Penida walau hanya sebentar saja. Tujuan pertama yang akan kami tuju pada hari ini ialah :


Kelingking Beach
Dari penginepan kami ke tempat ini memakan waktu kurang lebih sekitar 35 - 40 menit. Tekstur jalan di Penida ini cukup sempit, 'jelek' dan terkadang juga belum diaspal (rasain noh sensasinya, kayak lagi ngetrail). Ke tempat yang indah itu memang butuh perjuangan yak. Selain sensasi perjalanannya yang aduhai, penunjuk jalan di tempat ini masih belum benar-benar terarah. Kalau aku disuruh balik lagi kesana sendiri, mungkin aku juga tidak mengingat persis jalannya lagi. Hah! Saran nih, jika kalian hendak kemari dan signal GPS smartphone kalian hilang, silakan pake GPS (lokal) 'Gunakan Penduduk Setempat'.
Disini aktivitasnya bisa ngapain aja yak? Selain dapat menikmati keindahan alam yang sangat luar biasaaaaaa, kalian dapat berfoto di spot yang cantik ini, bisa juga manjat batang pohon untuk foto ala-ala kekinian, dan sebenernya bisa juga turun ke bibir pantai ngeliatin MANTA, Manta ya bukan Mantan, simak baik-baik dah. Selain di tempat ini, saya sudah pernah nemuin dia sebelumnya di tripku kemarin. Manta itu sejenis kayak ikan pari. Okeh, sejenis tapi tak sama. Kembar? Ya bisa jadi, bisa jadi, tapi tetep ada bedanya. Ahhh.. pusing-pusing dah lu. Skip saja.









Dikarenakan keterbatasan waktu, kami tidak cukup lama menikmati akan pesona alam di tempat ini. Uhkkk... sedih, rindu, sebel.. Dan akhirnya kami cusss....


Angel's Billabong dan Broken Beach alias Pasih Uug
Dari Kelingking kami lanjutkan perjalanan kami ke Angel's Billabong dan Broken Beach. Oh ya guys, Angel's Billabong dan Broken Beach ternyata masih dalam satu kawasan yang sama, cukup jalan beberapa meter saja kalian akan sampai kedua tempat ini. Walaupun dalam satu kawasan yang sama, tapi pesona alam yang ditawarkan kedua tempat ini begitu sangat berbeda dan punya daya tarik tersendiri.






Terlebih khusus di spot Angel's Billabong. Aku begitu sangat terkagum disini. Deburan ombak yang terhempas ke karang mewarnai indahnya tempat ini. Berhubung beberapa lalu sebelum kami ke tempat ini sempat hujan, air yang menggenang tak lagi berwarna hijau, tapi tak masalah tak mengurangi esensi indahnya tempat ini.




Selesai mengabadikan dan menikmati keindahan di Angel's Billabong, kami langsung bergegas ke Broken Beach. Cuaca yang panas, tanah tandus akan mengiringi perjalan kalian. Namun, Pasih Uug atau yang lebih dikenal dengan nama Broken Beach ini bakal menyambut kedatangan kalian dengan pemandangannya yang luar biasa. Lubang di tengah tebing dan ombak besar yang menghantam, bakal bikin kalian terpesona. Sayangnya, kenikmatan alam di tempat ini tak begitu kurasa, begitu ramai pengunjung, dan puanasnya poll membuat kaki tak mau lama-lama berjemur diterik sinar matahari.




Setelah selesai, dan puas beristirahat sejenak, kami langsung memutuskan untuk pulang dan siap menyebrang ke Bali. Oh ya ndes, dua hari semalem berkelana di Penida itu kurang bangeeetttt. Masih banyak list tempat yang belum kami kunjungi dan menjadi PR buatku. Aku tentu pasti akan kembali menyambutmu haii.. Seganing Waterfall, Guyangan, Atuh Beach, Suwehan Beach, dkk, dengan waktu yang tentunya cukup lama dari pandanganku yang pertama.


Behind the scene, this is my story.
Pengalaman pertama naik motor matic sendiri di tempat wisata, yang awalnya hampir jatuh sampe jatuh beneran, accident darah-darahan ampe lutut bolongan juga. Ketinggalan kopi yang beli di Lombok, ampir aja kehilangan kunci motor, mencret dan gak enak badan seharian ampe lemes badan mengiri perjalanku di Penida. 





Di balik begitu banyak suka terselip juga duka. Pokoknya aku RINDU KAU PENIDA. I'll be back again.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

GUNUNG MERBABU : 3142 MDPL - Catatan Pendakian Via Selo yang Mengagumkan

Cerita sebelumnya.... https://nengnongki.blogspot.com/2019/01/gunung-prau-2565-mdpl-via-patak-banteng.html Gunung Merbabu adalah salah satu dari sekian banyak gunung yang berada di Jawa Tengah. Pesona pemandangan alam yang disugguhkan gunung Merbabu sangat mempesona, tak kalah diragukan dikalangan pendaki, dengan ketinggian puncaknya mencapai 3.142 mdpl.  Banyak jalur yang bisa kita pilih untuk menikmati keindahan gunung ini, yaitu kita bisa melewati jalur pendakian via Selo (Boyolali), Kopeng (Salatiga), Wekas (Magelang), dan atau Suwanting (Magelang). Kali ini, setelah mencari banyak sumber, membaca banyak artikel dan menimbang-nimbang, kami memutuskan untuk melewati jalur Selo. Selain indah, kata orang-orang juga jalur ini cukup bersahabat dibandingkan jalur-jalur lainnya. Kendalanya cuma 1, lagi-lagi soal air. Patak Banteng, 26 Desember 2018 Pk. 10.15, setibanya kami di bawah (Basecamp Patak Banteng, Gunung Prau, Wonosobo), kami memutuskan untuk mengisi perut...

GUNUNG ARGOPURO : Itinerary, Tips, Budget Backpacker ke Argopuro

Sekilas tentang Argopuro Bagi penikmat dan pecandu ketinggian, tentu tahu atau pernah mendengar tentang Gunung Argopuro. Gunung berapi non-aktif yang terletak di wilayah Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, cukup dikenal sebagai gunung yang memiliki trek terpanjang se-Pulau Jawa dengan keindahan savana, keasrian alam yang masih cukup terjaga dengan baik, beserta indahnya Danau Taman Hidup. Tak hanya indah, panjang, dan luas, gunung Agropuro memiliki tiga puncak tertinggi, yaitu Puncak Arca (Puncak Hyang), Puncak Rengganis, dan Puncak Argopuro dengan ketinggian 3.088 mdpl. Tak hanya itu saja, gunung ini juga tak lepas dengan cerita Rengganis yang melegenda. Konon ceritanya, tempat ini dipakai sebagai tempat pengasingan seorang putri dari kerjaan Majapahit yang dibuang ke Pegunungan Hyang Argopuro. Pastinya, semua itu menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengiat alam untuk lebih mengenalnya. Ada dua jalur paling populer dikalangan pendaki. Pertama adalah Desa Bremi yang terl...

GUNUNG ARGOPURO : DAY 5 - Kembali ke Peradaban Menuju Desa Bremi

Cerita sebelumnya... [ BACA :  GUNUNG ARGOPURO : DAY 4 - Pesona Danau Taman Hidup ] D ay 5 - Jumat, 27  Desember 2019 Danau Taman Hidup - Desa Bremi Pagi itu ntah kenapa semangatku begitu berlebihan  menyambut menyapa hangatnya sinar mentari. Rasaku... Semalam maupun pagi itu, aku tak menyantap makanan atau minuman dengan dosis gula yang berlebih. Ku tak bisa berdiam diri membendung semangat itu, i ngin sekali kubergegas keluar dari balutan sleeping bag yang menghangatkanku tadi malam. Sepertinya... Aku... Aku belum terlalu ikhlas untuk menyudahi kesyahduan pagi, pagi seperti kala itu. Pagi yang tak akan pernah aku rasakan syahdunya seperti di kota. Kegalauanku seketika melanda, rasa tak rela melepas begitu menggenggam erat, berjalan cepat  bersama  waktu pagi itu. Rasa bahagia, rindu, sedih dan haru, melebur jadi satu yang menghadapkanku pada sebuah realita bahwa peradaban kota telah memanggilku kembali dengan segala rutinitas yang monotone . Yap,...