Langsung ke konten utama

GUNUNG ARGOPURO : DAY 1 - Dihajar Kesialan yang Bertubi

Sesering apa pun kita mendaki, menakhlukan puncak tertinggi 'Ibu Pertiwi' pastinya kita akan selalu menemukan cerita perjalanan yang berbeda. Baik tentang keindahan alam, kesulitan yang dihadapi, perbedaan karakter teman seperjalanan sampai dengan moment-moment yang tercipta akibat bayolan tim yang receh. Salah satu alasan inilah yang selalu membuatku ingin selalu balik dan balik lagi ke gunung, padahal emak sama babe di rumah udah ngoceh-ngoceh sampai mulut berbusa, tapi sayang, anaknya belum tobat-tobat juga.
Pada postingan sebelumnya, sudah sedikit diceritakan sekilas tentang Argopuro, transportasi kesana naik apa, berapa lama waktu dan budget yang dibutuhkan, dan juga ada sedikit informasi dan tips sebelum mendaki gunung ini.
Kesempatan ini, izinkan aku untuk menuliskan cerita receh ketika menjalani didikan alam di Argopuro selama 5 hari 4 malam.

...

Day 1 - Senin, 23 Desember 2019
Pagi itu cerah, secerah hatiku yang girang menyapa mantan mentari pagi di resort konservasi wilayah 23 Argopuro. Tak sabar inginku untuk cepat bergegas mendekap dan merasakan hangat sambutannya.


Resort Konservasi Wilayah 23 - Argopuro
'Gulaku tinggi', semangatku makin menjadi saat ku pandang resort di depan warung kami menginap semalam, telah berjejer puluhan abang-abang ojek yang siap mengantarkan pendaki ke Makadam [pintu rimba Argopuro]. Indah bukan, kita gak perlu repot-repot berjalan jauh untuk sampai di pintu rimba. Gak tanggung-tanggung, kalau kalian gak mau susah dan rela bayar harga lebih, bisa aja tuh minta dianter sampai Cikasur (gak semua ojek mau nganterin sih, karena memang sudah adanya larangan ojek untuk sampai di Cikasur. Mungkin larangan ini ada, akibat viralnya video yang sempat tersebar luas di sosial media). Bayangin aja, kita udah capek-capek jalan berjam-jam, lalu ngeliat pendaki bersama ojek lewat itu, KEZELNYA gak terkatakan. Sebagai penikmat lelah alam, tentunya kami lebih memilih untuk di antar sampai di pintu rimba dengan membayar 40.000 rupiah. Kalau mau jalan kaki sih juga gpp, namun demi menghemat waktu dan tenaga, mendingan kita bayar saja karena perjalanan beberapa hari ke depan akan sangat panjang dan tentunya melelahkan. Oh ya, pada kesempatan kali ini, aku mendaki bertiga saja. Ada aku, Reza yang selalu menemani pendakianku, dan Bang Eko yang merupakan teman seperjuangan Reza.


Bang Eko - ... - Reza
Seusai sarapan pempek yang kubawa dari Palembang, dan juga mempacking ulang seluruh barang bawaan serta logistik yang telah dibeli, kami putuskan untuk segera berangkat. Sebelum memulai pendakian kita wajib mengurus perizinan dan administrasi yang dikelola oleh BKSDA, per hari dikenakan Rp 20.000, dan hari libur/pekan dikenakan Rp 25.000. Kami diharuskan membayar Rp 105.000/orang untuk 5 hari perjalanan, biaya administrasi termahal yang pernah kubayar selama aku naik gunung. Tak berlama-lama dan bernegosiasi, kami langsung saja naik ojek yang sedang mangkal.


Sialnya, setelah 40 menit berjalan, saat batas aspal berubah menjadi tanah merah yang becek dan licin akibat diguyur hujan, aku dan Bang Eko diturunkan si abang ojek, sedangkan Reza sudah lebih dulu mendahului kami.
"Udah sampai disini aja." Ujar si abang ojek.
"Loh kok sampai sini sih bang, temen kami udah jalan di depan." Balasku.
"Iya sampai sini aja, 40rb ongkosnya."

Kesel pasti, ngedumel tentu, bayar 40rb gak ikhlas, iya!

"Gimana sih ini bang, masa kita harus jalan sendiri. Salah bangetlah gak ngomong jelas-jelas waktu di bawah. Dikerjain kita kan." Dumelku ke bang Eko saat itu.
"Udah sabar aja, dijalanin aja. Orang sabar, banyak rejekinya." Balasnya.

3 menit berjalan memanggul carrier berkilo-kilo, tak lantas membuatku mengikhlaskan begitu saja kejadian yang sudah berlalu, dan pada akhirnya begitu melihat ojek turun...

"Bang, bang, bisa minta tolong antarkan kami ke Makadam? Kami diturunin disini."
"Siapa yang anter kalian sampai sini?"
"Ya mana kami tahu nama abangnya."
"Sini, naiklah."

Mungkin karena kasihan melihat kami harus berjalan cukup jauh, mereka pun rela nganterin kami ke Makadam tanpa dibayar. Selama perjalanan si abang ojek juga sempet nawarin untuk nganter sampai Pos Mata Air 1, tapi kami tolak.

View di tengah perjalanan menuju Makadam

Makadam
Tarif ojek Argopuro - Bremi :
Rp   40.000,- Basecamp - Makadam
Rp 125.000,- Basecamp - Pos Mata Air 1

Makadam - Pos Mata Air 1
Waktu tempuh dari Makadam menuju Pos Mata Air 1 membutuhkan waktu lebih kurang 2.5 jam dengan jalur yang cukup menanjak melewati perkebunan milik warga. Namun dikarenakan udah jalan kaki 45 menit gak nyampe-nyampe dan ngeliat beberapa pendaki dianter ojek sampai Pos Mata Air 1, tiba-tiba "kemanjaanku" memberontak.

"Capek, naik ojek aja yuk, Za!" Ujarku.
"Noh, tanya Bang Eko, mau apa kagak dia."
"Bang Eko, naik ojek aja yuk?"
"Boleh. Ayo jalan." Lontarnya tanpa panjang lebar.
"Kita santai disini aja sambil nunggu ojek turun." Ujarku.
"Ayo jalan pelan-pelan." Semangat Bang Eko masih menggebu-gebu.
"Santai aja Bang. Jalan apa gak nanti tetep naik ojek juga."




Kemageranku akhirnya dikasih makan, dan begitu ojek turun langsung kami hentikan dan bernegosiasi untuk diantar ke Pos Mata Air 1. Akhirnya dengan membayar Rp 50.000,-/orang, kami tiba di Pos Mata Air 1 dengan waktu tempuh sekitar 15 menit saja. Cukup worth it dibandingkan dengan jalur pendakian yang cukup panjang dan terkadang menanjak. Sempat terjadi drama kecil, ojek yang ditumpangi Reza tiba-tiba oleng dan terjatuh. Untung saja, tidak ada yang terluka atau jadi korban jiwa dalam peristiwa ini. Oh ya gengs, ojek disini keren-keren, mereka harus melilitkan rantai di ban motor mereka supaya tidak tergelincir. Ku akui memang, jalur menuju ke Pos Mata Air 1 itu licin dan menanjak, jadi ketika diboncengin sama abang ojeknya kita akan merasa seperti naik motor trail. Kudu wajib dicobain, ini ga seserem kisahku naik ojek di Raung.
Pos Mata Air 1 terdapat sumber mata air, jadi jika mendadak ngecamp disini, kalian ga perlu kuatir. View-nya cukup indah, air memadai, dan bisa menampung beberapa tenda.

Ini Bapak yang nolongin aku ke Makadam, dan akhirnya nganterin aku juga ke Pos Mata Air 1. Rejekimulah Pak! Thank ya.



Pos Mata Air 1 - Pos Mata Air 2
Seusai berfoto dan menarik nafas, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Pos Mata Air 2. Di sepanjang jalur pendakian menuju Pos Mata Air 2, kita tidak akan jenuh atau bosan dibuatnya. Pemandangan yang terhampar disisi bukit sebelah kanan begitu indah dan tentunya mempesonakan setiap orang yang melewatinya. Kebakaran hutan 19 Oktober 2019 lalu, masih terasa dan menyisakan jejak. Pepohonan nampak menghitam, daun-daun menguning seolah enggan gugur dari batangnya, membuat keindahan gunung ini semakin bertambah. Sesekali kami berhenti untuk sekedar berfoto mengabadikan tiap keindahan dan moment yang ada.









2.5 jam berlalu, setibanya di Pos Mata Air 2, kami memutuskan untuk makan siang di tempat ini. Baru saja kami membuka bungkus makanan yang telah kami bawa dari basecamp, angin pun berhembus kencang, cuaca menjadi mendung pertanda akan segera turun hujan. Damn, belum aku rasakan suapan pertama, turunlah hujan. Bergegas Reza dan Bang Eko mencoba membangun tempat perteduhan sementara. Namun ada saja masalah, flysheet yang Reza bawa hanya berukuran 1.5 x 1.5 meter, terlalu kecil untuk menampung kami bertiga di tengah hujan yang curahnya semakin lama semakin deras. Bang Eko pun berinisiatif mengeluarkan flysheet yang dibawanya, namun ternyata flysheet-nya juga tak bisa digunakan. Hujan tak kunjung reda, air rembesan flysheet terus membasahi kami. Ini mengharuskan Reza dan Bang Eko lagi untuk bergegas membuka tenda sementara.

"Bang, buka tenda sementara aja ya. Nanti kalau reda kita lanjut jalan lagi." Ujar Reza.
"Kenapa gak dari tadi sih." Tanggap Bang Eko.

Dengan sigap, mereka keluar dari perteduhan, memakai jas hujan, dan mendirikan tenda. Semua tampak terburu-buru, tak ter-planning. Baju basah kuyup karena diguyur hujan, perut yang mulai terasa lapar karena belum makan, dan cuaca begitu dingin, mengharuskanku untuk tetap bersyukur saat itu. Kurasakan indah dan nikmatnya makan di tenda bertiga dengan posisi duduk berjongkok menghindari aliran air yang mengalir. Keram, kesemutan, kedinginan, kotor? Tentu!

"Kita jadi lanjut, atau mau ngecamp disini?" Ujarku.
"Lanjut aja setelah hujan reda." Ujar Bang Eko.
"Aku sih mager ya, camp disini aja lanjut besok." Jawab Reza.
"Aku ngikut aja sih, pengen lanjut juga setelah hujan reda." Tanggapku.

Saat itu waktu masih terbilang sangat pagi, sekitar pukul 10.45, wajar saja jika kami ingin melanjutkan perjalanan seusai hujan reda. Namun akibat hujan yang baru reda sekitar pukul 14.00, dan kelamaan dalam tenda, jiwa kemageran Reza dan aku memberontak, menahan langkah kaki Bang Eko yang hendak bergegas meneruskan perjalanan pada hari itu.




bersambung...
Hujan Kemarin Menyisakan Cerita untuk Hujan Hari Ini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

GUNUNG MERBABU : 3142 MDPL - Catatan Pendakian Via Selo yang Mengagumkan

Cerita sebelumnya.... https://nengnongki.blogspot.com/2019/01/gunung-prau-2565-mdpl-via-patak-banteng.html Gunung Merbabu adalah salah satu dari sekian banyak gunung yang berada di Jawa Tengah. Pesona pemandangan alam yang disugguhkan gunung Merbabu sangat mempesona, tak kalah diragukan dikalangan pendaki, dengan ketinggian puncaknya mencapai 3.142 mdpl.  Banyak jalur yang bisa kita pilih untuk menikmati keindahan gunung ini, yaitu kita bisa melewati jalur pendakian via Selo (Boyolali), Kopeng (Salatiga), Wekas (Magelang), dan atau Suwanting (Magelang). Kali ini, setelah mencari banyak sumber, membaca banyak artikel dan menimbang-nimbang, kami memutuskan untuk melewati jalur Selo. Selain indah, kata orang-orang juga jalur ini cukup bersahabat dibandingkan jalur-jalur lainnya. Kendalanya cuma 1, lagi-lagi soal air. Patak Banteng, 26 Desember 2018 Pk. 10.15, setibanya kami di bawah (Basecamp Patak Banteng, Gunung Prau, Wonosobo), kami memutuskan untuk mengisi perut...

GUNUNG ARGOPURO : Itinerary, Tips, Budget Backpacker ke Argopuro

Sekilas tentang Argopuro Bagi penikmat dan pecandu ketinggian, tentu tahu atau pernah mendengar tentang Gunung Argopuro. Gunung berapi non-aktif yang terletak di wilayah Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, cukup dikenal sebagai gunung yang memiliki trek terpanjang se-Pulau Jawa dengan keindahan savana, keasrian alam yang masih cukup terjaga dengan baik, beserta indahnya Danau Taman Hidup. Tak hanya indah, panjang, dan luas, gunung Agropuro memiliki tiga puncak tertinggi, yaitu Puncak Arca (Puncak Hyang), Puncak Rengganis, dan Puncak Argopuro dengan ketinggian 3.088 mdpl. Tak hanya itu saja, gunung ini juga tak lepas dengan cerita Rengganis yang melegenda. Konon ceritanya, tempat ini dipakai sebagai tempat pengasingan seorang putri dari kerjaan Majapahit yang dibuang ke Pegunungan Hyang Argopuro. Pastinya, semua itu menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengiat alam untuk lebih mengenalnya. Ada dua jalur paling populer dikalangan pendaki. Pertama adalah Desa Bremi yang terl...

GUNUNG ARGOPURO : DAY 5 - Kembali ke Peradaban Menuju Desa Bremi

Cerita sebelumnya... [ BACA :  GUNUNG ARGOPURO : DAY 4 - Pesona Danau Taman Hidup ] D ay 5 - Jumat, 27  Desember 2019 Danau Taman Hidup - Desa Bremi Pagi itu ntah kenapa semangatku begitu berlebihan  menyambut menyapa hangatnya sinar mentari. Rasaku... Semalam maupun pagi itu, aku tak menyantap makanan atau minuman dengan dosis gula yang berlebih. Ku tak bisa berdiam diri membendung semangat itu, i ngin sekali kubergegas keluar dari balutan sleeping bag yang menghangatkanku tadi malam. Sepertinya... Aku... Aku belum terlalu ikhlas untuk menyudahi kesyahduan pagi, pagi seperti kala itu. Pagi yang tak akan pernah aku rasakan syahdunya seperti di kota. Kegalauanku seketika melanda, rasa tak rela melepas begitu menggenggam erat, berjalan cepat  bersama  waktu pagi itu. Rasa bahagia, rindu, sedih dan haru, melebur jadi satu yang menghadapkanku pada sebuah realita bahwa peradaban kota telah memanggilku kembali dengan segala rutinitas yang monotone . Yap,...