Langsung ke konten utama

BUKIT BESAK : Dari Pergi Sampai Pulang Tetap "PANAS"

"Cik, mau ikut ke Gn. Dempo? Ke Kedai deh, biar bisa ngopi dan bahas lagi."
Antara galau ditinggal pacar, izin dari atasan karena harus pulang setengah hari, atau takut ga dapet restu dari ortu, udah bercampur aduk kayak gado-gado dalem pikiran, maka kuputuskan untuk tidak bergabung dalam trip Dempo.
"Gak ikut dululah, yang deket-deket aja, Bukit Besak gitu pas weekend, aku pasti ikut." ujarku
"Deal!"
"Oke, deal!"
Belum dapet SIM (Surat Izin Mama), aku sudah membuat persetujuan dengan seorang teman pendakianku. Resiko pendaki wanita yang belum bersuami itu begini, kemana-mana harus dapet izin mama. #curhattipistipislah Izin utama orang tua (mama khususnya) adalah syarat penting bagiku sebelum berpergian. Namun, pada nyata dan faktanya, setiap kali minta izin, palingan cuma ngelapor doank karena susahnya dapet kepercayaan. Yekaaannnn.. Orang tua mana yang ikhlas anak gadisnya berkelana di alam bebas yang penuh resiko. Oke, skip!

Sehari sebelum hari keberangkatan tiba, aku masih getol untuk ngedesak mama buat ngasih izin pergi, sampai pada akhirnya...
"yasudah, terserahmu aja. Aku izinin atau gak, kamu akan tetep pergi kan?"
"Iya ma, aku pergi ya, cuma sehari aja ko."
"Terserahmu aja, Nop!"


Sabtu, 9 November 2019
Palembang - Lahat - Puncak Bukit Besak
Pk. 07.00, kita semua berkumpul di loket bus Wisata Lahat, dan diberangkatkan pukul 08.00. Perjalanan dari Palembang menuju Desa Perangai (Lahat), desa terakhir untuk melakukan registrasi pendakian, memakan waktu selama lima jam setengah. Perjalanan yang tak terduga, tak kusangka juga, naik bus super jadul mirip ke odong-odong donk. Tiap kali nutup pintu, harus bunyi "brak!", tiap kali melewati jalan rusak dan berlobang musiknya bisa break sampai 3 detik (kocaknya, ngelebihi diajak break sama mantan), daaannnnn tiap kali mobil berhenti, puanasnya kebangetan puanasnya ngelebihin panasnya hati ketika ngeliat mantan bawa pacar barunya). Parah banget ga tu? Sedih banget ga tu?

Di siang hari yang begitu panas, kami tiba diperhentian terakhir sebelum memulai pendakian. Di depan lorong sudah banyak Bapak-Bapak ojek yang menawarkan kami untuk di antar sampai di Shelter 1. Namun kami menolak dengan sopan dan memilih untuk berjalan kaki. Pemandangan menuju Pos Registrasi cukup mengesankan, ladang milik warga luas membentang, sungai mengalir indah, walau pun musim sedang kemarau dan tak banyak air.

Bapak ojeknya lagi nyantai tuh









Sungainya kering kan!
Cukup berjalan kaki 10 menit, selepas melewati jembatan penghubung yang dibuat warga, akhirnya kami pun tiba di pos registrasi. Disini tiap pendaki harus melapor, dan diwajibkan membayar 5.000 rupiah untuk retribusi wisata. Cukup lama kami beristirahat, makan, dan memutuskan untuk memulai pendakian pukul 15.00.







Pos Registrasi - Shelter 1
Bukit Besak memang sudah dijadikan objek wisata bagi penduduk setempat. Jadi, sepanjang perjalanan dari Pos Registrasi - Shelter 1, jalur pendakian sudah begitu sangat jelas terlihat, jalanan berbatu, sangat baik, tertata rapih, diapit kanan kiri oleh kebun karet milik warga. 10 menit berjalan, kami memasuki pintu rimba.







Faktor U dan kurangnya olahraga mengakibatkan kami yang sudah tua ini kebanyakan ngaso dan akhirnya sampai ke Shelter 1 pukul 15.40.
Shelter 1 Bukit Besak di tandai dengan sebuah pondokan cukup besar milik warga. Pondokan ini sangat dimanfaatkan banyak pendaki buat nyantui-nyantui ria sambil minum es susu, es tawar, es teh, #eseseses, makan gorengan, atau sekedar ngobrol ngarul-ngidul.




20 menit berselang..
Shelter 1 - Shelter 2
Selamat datang di kerasnya Rimba Bukit Besak.....
Perjalanan cukup menguras tenaga, dan bisa dibilang sudah tak ada bonus. Menanjak, begitu melelahkan namun terbayar dengan view kanan kiri bukit batu yang besar nan indah. Sejam berjalan, kami menemukan tangga yang di pasang warga untuk membantu pendaki sampai di puncak. Trek tangga ini, menjadi penanda untuk kami bahwa puncak semakin dekat. Perlahan tapi pasti, lelah melewati begitu banyak tanjakan, akhirnya kami pun tiba di pelataran Bukit Besak pada pukul 17.30. Perjalan 1,5 jam yang begitu menguras tenaga dan drama.









Dikarenakan hari itu tanggal merah, dan bertepatan dengan weekend, kami mendapati banyak sekali pendaki yang telah mendirikan tenda dan menikmati keindahan alam yang disuguhkan. Bergegas para lelaki mendirikan tenda, memasak, sedangkan para perempuan berberes membereskan apa yang belum beres. Perempuan di gunung tu emang gitu, jadi nyonya!
Seusai makan, kami nyantui-nyantui nyari signal, nyanyi-nyanyi gak jelas menghabisi malam, berharap besok dapat sunrise. Malam berlalu penuh drama yang menegangkan. Selain udara di gunung yang tak biasa (panas ga ada angin), disini untuk pertama kalinya, aku melihat orang kesurupan, dirukiah. Merinding, tak bisa berkata apa. Berharap malam cepat berlalu, dan mata berusaha untuk tidur di tengah segala tidak kenyamanan itu.





Minggu, 10 November 2019
Udara panas, tak membuatku betah di dalam tenda. Ketika mendengar suara temanku bangun, kuputuskan untuk keluar tenda menikmati suasana pagi. Berasap, dan tak sesegar yang kupikirkan. Dampak kebakaran lahan dan hutan yang belum juga teratasi, membuat sunset dan sunrise tak nampak indah. Namun, itu tak mengurangi semangat dan bahagianya kami menikmati indahnya kebersamaan.









Setelah puas menikmati alam, kembali para pria memasak dan menyiapkan kami sarapan pagi sebagai modal tenaga untuk perjalanan turun. Perjalanan turun begitu sangat santai, dan menibakan kami pada Pos Registrasi pk. 10.50.



Terima kasih Bukit Besak untuk segala kesulitanmu. Kau terkecil tapi pedes! Kau terpendek tapi menguras emosi! Mungkin aku akan kembali suatu saat nanti. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

GUNUNG MERBABU : 3142 MDPL - Catatan Pendakian Via Selo yang Mengagumkan

Cerita sebelumnya.... https://nengnongki.blogspot.com/2019/01/gunung-prau-2565-mdpl-via-patak-banteng.html Gunung Merbabu adalah salah satu dari sekian banyak gunung yang berada di Jawa Tengah. Pesona pemandangan alam yang disugguhkan gunung Merbabu sangat mempesona, tak kalah diragukan dikalangan pendaki, dengan ketinggian puncaknya mencapai 3.142 mdpl.  Banyak jalur yang bisa kita pilih untuk menikmati keindahan gunung ini, yaitu kita bisa melewati jalur pendakian via Selo (Boyolali), Kopeng (Salatiga), Wekas (Magelang), dan atau Suwanting (Magelang). Kali ini, setelah mencari banyak sumber, membaca banyak artikel dan menimbang-nimbang, kami memutuskan untuk melewati jalur Selo. Selain indah, kata orang-orang juga jalur ini cukup bersahabat dibandingkan jalur-jalur lainnya. Kendalanya cuma 1, lagi-lagi soal air. Patak Banteng, 26 Desember 2018 Pk. 10.15, setibanya kami di bawah (Basecamp Patak Banteng, Gunung Prau, Wonosobo), kami memutuskan untuk mengisi perut...

GUNUNG ARGOPURO : Itinerary, Tips, Budget Backpacker ke Argopuro

Sekilas tentang Argopuro Bagi penikmat dan pecandu ketinggian, tentu tahu atau pernah mendengar tentang Gunung Argopuro. Gunung berapi non-aktif yang terletak di wilayah Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, cukup dikenal sebagai gunung yang memiliki trek terpanjang se-Pulau Jawa dengan keindahan savana, keasrian alam yang masih cukup terjaga dengan baik, beserta indahnya Danau Taman Hidup. Tak hanya indah, panjang, dan luas, gunung Agropuro memiliki tiga puncak tertinggi, yaitu Puncak Arca (Puncak Hyang), Puncak Rengganis, dan Puncak Argopuro dengan ketinggian 3.088 mdpl. Tak hanya itu saja, gunung ini juga tak lepas dengan cerita Rengganis yang melegenda. Konon ceritanya, tempat ini dipakai sebagai tempat pengasingan seorang putri dari kerjaan Majapahit yang dibuang ke Pegunungan Hyang Argopuro. Pastinya, semua itu menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengiat alam untuk lebih mengenalnya. Ada dua jalur paling populer dikalangan pendaki. Pertama adalah Desa Bremi yang terl...

GUNUNG ARGOPURO : DAY 5 - Kembali ke Peradaban Menuju Desa Bremi

Cerita sebelumnya... [ BACA :  GUNUNG ARGOPURO : DAY 4 - Pesona Danau Taman Hidup ] D ay 5 - Jumat, 27  Desember 2019 Danau Taman Hidup - Desa Bremi Pagi itu ntah kenapa semangatku begitu berlebihan  menyambut menyapa hangatnya sinar mentari. Rasaku... Semalam maupun pagi itu, aku tak menyantap makanan atau minuman dengan dosis gula yang berlebih. Ku tak bisa berdiam diri membendung semangat itu, i ngin sekali kubergegas keluar dari balutan sleeping bag yang menghangatkanku tadi malam. Sepertinya... Aku... Aku belum terlalu ikhlas untuk menyudahi kesyahduan pagi, pagi seperti kala itu. Pagi yang tak akan pernah aku rasakan syahdunya seperti di kota. Kegalauanku seketika melanda, rasa tak rela melepas begitu menggenggam erat, berjalan cepat  bersama  waktu pagi itu. Rasa bahagia, rindu, sedih dan haru, melebur jadi satu yang menghadapkanku pada sebuah realita bahwa peradaban kota telah memanggilku kembali dengan segala rutinitas yang monotone . Yap,...