Langsung ke konten utama

GUNUNG KABA : Pesona Kabutmu di Rindukan

Pada tulisan kali ini saya ingin menceritakan pengalaman kami ke Mt. Kaba dengan ketinggian 1.936 mdpl yang terletak di Curup, Bengkulu. Pendakian kali ini, benar-benar tanpa planning dan terkesan dadakan. Yap, tidak direncanakan akibat korban PHP batal ke Mahameru. Well, singkat cerita hari H pun tiba.



Jumat, 28 Juli, Pk. 19.00, Mepo at Stasiun Kertapati, Palembang.
Tepat pk. 20.00 kereta Sidang Marga tujuan Lubuk Linggau segera diberangkatkan. Diperkirakan kami akan tiba di LLG sekitar pk. 03.30 WIB. Perjalanan 7 setengah jam ini, kami habiskan untuk bercerita serta melepas lelah dengan beristirahat.



Sabtu, 29 Juli, Pk. 03.30 dini hari kami sampai di terminal LLG, dan sesuai dengan schedule kami langsung menuju masjid untuk berberes, sementara teman kami yang lain beribadah. Oh iya, selama kami menunggu pagi, kami terus dikejar ‘calo’ yang maksa menawarkan diri untuk mengantar kami. Langsung saja ditolak. Kami memilih untuk ngeteng dan mencari mobil sayur untuk kami tumpangi.




Perjalanan kami cukup panjang, namun tidak membosankan. Disepanjang perjalanan, kami disuguhkan view alam yang begitu cantik dengan penampakan bukit dan alam yang masih begitu asri.






Singkat saja, pk. 08.45 kami sudah sampai di titik awal pendakian Mt. Kaba, dan tak butuh waktu lama, kami pun memutuskan untuk segera naik. FYI, untuk sampai ke puncak Kaba, ada dua jalur yang bisa dipilih. Jalur yang bisa dilewati kendaraan, ada juga jalur yang benar-benar bersentuhan dengan alam. Yap, tentunya kami memilih jalur yang kedua – hiking dengan ransel berisikan peralatan perang yang super.




Normal waktu tempuh untuk sampai di puncak sebetulnya hanya berkisar 2 jam, namun dikarenakan kami tidak begitu mengejar dan santai, kami memboroskan waktu sejam untuk tiba. Perjalanan kali ini, aku ditemani oleh 2 orang wanita, dan 5 orang pria yang super gokil. Kak Oyon dan Kak Andi yang otaknya rada kurang sekilo, Kak Ares juga rada kurang secanting, Jim dan Kak Dimas yang kalem-kalem (Kanji-kanji lembut), Kak Rizka yang menjadi korban bully sepanjang perjalanan dan Kak Nyayu yang seteronggg. Setibanya kami di atas, kurang lebih pk. 11.45, kami langsung memutuskan untuk mendirikan tenda dan masak. Kaum pria begitu sangat luar biasa, selain jago mendirikan tenda, masakan mereka pun okeh punya.

















Singkat cerita, setelah perut lapar terisi dengan padat, kami memutuskan untuk turun ke kawah dan berencana mengejar sunset on top. Jalur yang kami tempu menuju kawah dibilang mudah salah, dibilang sulit juga salah. Namanya juga di alam bebas dengan cuaca yang tak bisa ditebak, kita diharuskan untuk terus berhati-hati. Disepanjang perjalanan menuju kawah, kami disuguhi dengan pemandangan bukit terbentang hijau yang cantik. Dan untuk sampai ke kawah, waktu yang kami butuhkan tidaklah lama, kurang lebih hanya setengah jam saja dari tempat kami mendirikan tenda.










Setelah puas berfoto dan melihat kawah pertama yang sudah tidak aktif lagi, kami melanjutkan perjalanan menuju kawah belerang yang masih aktif. Trek untuk sampai ke kawah ini cukup memicu adrenalin, kiri nampak kawah sedangkan disebelah kanan nampak jurang, dan medan yang kami lalui jalurnya berbatu (berasa main prosotan).




Tak lama kami menikmati pemandangan kawah Kaba yang cukup terlihat cantik, kami bergegas menuju top untuk melihat penampakan kembalinya Sang Surya kerperaduannya. Cukup beruntung dengan kondisi cuaca yang tidak begitu cerah, di atas ketinggian 1.936 mdpl dengan perlahan mataku dimanjakan lagi dengan sunset di atas Kaba yang begitu indah, ditemani dengan beberapa teman. Betapa bersyukurnya aku dengan keadaan, situasi, dan kondisi pada saat itu. Semua beban, capek, lelah berasa hilang. I’m feel so happy and free.













Matahari kian terbenam menandakan malam akan segera tiba. Bergegas kami putuskan untuk kembali ke tenda dan melanjutkan acara kami dengan makan malam serta berisitirahat.



Makan Malam 

Minggu, 30 Juli, Pk. 05.00
Sebetulnya kami berencana turun melihat sunrise dan menyaksikan kawah mati cukup dekat, namun apa daya dikarenakan cuaca kurang begitu baik (berkabut dan dingin), kami putuskan untuk tidak turun, dan memilih sarapan pagi, dan langsung packing untuk kembali ke Palembang.

Oh ya guys, disepanjang perjalanan menuju puncak Mt. Kaba, ada mata air panas yang bisa kita nikmati. Berhubung pas naik kami tidak sempat mampir, waktu turun guide membawa kami untuk mampir ke air panas ini dengan jalurnya cukup yahud (mungkin karena jarang dilalui oleh manusia). Awalnya, aku pribadi gak ada niat untuk basah-basahan di tempat ini, melihat keseruan temanku, aku tergoda untuk nyebur (walaupun ga bener-bener nyebur), merasakan hangatnya air di tempat ini.



Ntah Inang ini kepanasan apa kedinginan, beda tipis

Bunda cantik banyak Suami
Puas bermain air, kami lanjutkan perjalanan. Sodara”, bukannya melewati jalur yang seharusnya, guide membawa kami turun ke jalur lain yang belum juga dia lewati sebelumnya. Katanya begini: ‘kalau kesesat di gunung, ikutin aja aliran sungai, pasti akan ketemu jalan keluar atau rumah penduduk.’ (Nekatttttts ini bah. Kalau ketemu jalan atau rumah penduduk sih baik, kan ya. Kalau ketemunya jurang atau Mr. Tiger atau sejenisnya kan, ngeri-ngeri sedep kan ya). Aku tak banyak berkomentar, dan nurut saja untuk mengekplorasi daerah sana. Akhirnya, dengan kenekatan yang cukup bulat, kami melewati jalur air yang mengalir. Sepanjang perjalanan hati ini dag dig dug srrrrr, melewati hutan lembab yang jalurnya pun jarang dilewati manusia. Betul saja, di tengah perjalanan kakiku terasa gatal, dan setelah ku periksa, ternyata oh ternyataaaaa… Pak Pacet mau berkunjung ke rumahku. Taraaaaa… ‘Pacettt; teriakku.’ Teman-temanku langsung bergegas dan memeriksa kaki seluruh tubuh mereka. Benar-benarlah kami panen pacet dijalur ini. Hahaha. Setelah berpacet-pacetan ria, kami teruskan perjalanan kami dan beruntung tak lama dari itu, kami melihat perkebunan warga pertanda jalur yang kami lewati tidaklah salah. Kata syukur langsung keluar dari mulutku, untung saja kami tak tersesat, dll. Pada akhirnya, kamipun tiba di titik awal pendakian tanpa kurang suatu apapun.


I thank God to great place, great friends, great experiences at Mt. Kaba on 28 – 30 July! I’m so blessed!

Bonus PERJALAN CURUP - PALEMBANG :




Komentar

Postingan populer dari blog ini

GUNUNG MERBABU : 3142 MDPL - Catatan Pendakian Via Selo yang Mengagumkan

Cerita sebelumnya.... https://nengnongki.blogspot.com/2019/01/gunung-prau-2565-mdpl-via-patak-banteng.html Gunung Merbabu adalah salah satu dari sekian banyak gunung yang berada di Jawa Tengah. Pesona pemandangan alam yang disugguhkan gunung Merbabu sangat mempesona, tak kalah diragukan dikalangan pendaki, dengan ketinggian puncaknya mencapai 3.142 mdpl.  Banyak jalur yang bisa kita pilih untuk menikmati keindahan gunung ini, yaitu kita bisa melewati jalur pendakian via Selo (Boyolali), Kopeng (Salatiga), Wekas (Magelang), dan atau Suwanting (Magelang). Kali ini, setelah mencari banyak sumber, membaca banyak artikel dan menimbang-nimbang, kami memutuskan untuk melewati jalur Selo. Selain indah, kata orang-orang juga jalur ini cukup bersahabat dibandingkan jalur-jalur lainnya. Kendalanya cuma 1, lagi-lagi soal air. Patak Banteng, 26 Desember 2018 Pk. 10.15, setibanya kami di bawah (Basecamp Patak Banteng, Gunung Prau, Wonosobo), kami memutuskan untuk mengisi perut...

GUNUNG ARGOPURO : Itinerary, Tips, Budget Backpacker ke Argopuro

Sekilas tentang Argopuro Bagi penikmat dan pecandu ketinggian, tentu tahu atau pernah mendengar tentang Gunung Argopuro. Gunung berapi non-aktif yang terletak di wilayah Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, cukup dikenal sebagai gunung yang memiliki trek terpanjang se-Pulau Jawa dengan keindahan savana, keasrian alam yang masih cukup terjaga dengan baik, beserta indahnya Danau Taman Hidup. Tak hanya indah, panjang, dan luas, gunung Agropuro memiliki tiga puncak tertinggi, yaitu Puncak Arca (Puncak Hyang), Puncak Rengganis, dan Puncak Argopuro dengan ketinggian 3.088 mdpl. Tak hanya itu saja, gunung ini juga tak lepas dengan cerita Rengganis yang melegenda. Konon ceritanya, tempat ini dipakai sebagai tempat pengasingan seorang putri dari kerjaan Majapahit yang dibuang ke Pegunungan Hyang Argopuro. Pastinya, semua itu menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengiat alam untuk lebih mengenalnya. Ada dua jalur paling populer dikalangan pendaki. Pertama adalah Desa Bremi yang terl...

GUNUNG ARGOPURO : DAY 5 - Kembali ke Peradaban Menuju Desa Bremi

Cerita sebelumnya... [ BACA :  GUNUNG ARGOPURO : DAY 4 - Pesona Danau Taman Hidup ] D ay 5 - Jumat, 27  Desember 2019 Danau Taman Hidup - Desa Bremi Pagi itu ntah kenapa semangatku begitu berlebihan  menyambut menyapa hangatnya sinar mentari. Rasaku... Semalam maupun pagi itu, aku tak menyantap makanan atau minuman dengan dosis gula yang berlebih. Ku tak bisa berdiam diri membendung semangat itu, i ngin sekali kubergegas keluar dari balutan sleeping bag yang menghangatkanku tadi malam. Sepertinya... Aku... Aku belum terlalu ikhlas untuk menyudahi kesyahduan pagi, pagi seperti kala itu. Pagi yang tak akan pernah aku rasakan syahdunya seperti di kota. Kegalauanku seketika melanda, rasa tak rela melepas begitu menggenggam erat, berjalan cepat  bersama  waktu pagi itu. Rasa bahagia, rindu, sedih dan haru, melebur jadi satu yang menghadapkanku pada sebuah realita bahwa peradaban kota telah memanggilku kembali dengan segala rutinitas yang monotone . Yap,...